{"id":10993,"date":"2026-03-06T06:45:33","date_gmt":"2026-03-05T22:45:33","guid":{"rendered":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/"},"modified":"2026-03-06T06:45:33","modified_gmt":"2026-03-05T22:45:33","slug":"identify-use-cases-business-process","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/","title":{"rendered":"Identifikasi Kasus Penggunaan dari Proses Bisnis"},"content":{"rendered":"<div class=\"tut-page-title\">\n<p>Identifikasi Kasus Penggunaan dari Proses Bisnis<\/p>\n<\/div>\n<div class=\"tut-page-lead\">\n<div class=\"row small-12 medium-12 large-6 columns\">\n<p class=\"tut-contribute-menu\">Edisi Visual Paradigm yang Kompatibel: Enterprise, Profesional, Standar<\/p>\n<\/div>\n<div class=\"row small-12 medium-12 large-6 columns\"><\/div>\n<p>BPMN semakin sering digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan perangkat lunak yang mendukung proses bisnis. Kebutuhan perangkat lunak sering kali ditemukan tidak selaras dengan proses bisnis. Oleh karena itu, pengumpulan kebutuhan berdasarkan model proses bisnis akan menjamin keselarasan antara model proses bisnis dan model perangkat lunak, sehingga kemungkinan besar akan menghasilkan apa yang diharapkan pengguna.<\/p>\n<\/div>\n<hr\/>\n<div class=\"row medium-12 large-12 columns\">\n<div class=\"tut-page-content\">\n<article>\n<div class=\"tour\">\n<p>Tim pengembangan dapat menggunakan model proses bisnis untuk mendokumentasikan alur kerja bisnis secara visual, dan menghubungkan kasus penggunaan dengan proses bisnis tersebut untuk memodelkan fitur yang diinginkan yang ingin dicapai oleh sistem. Dalam tutorial ini, kami akan menjelaskan secara rinci cara menggunakan fungsi Model Transitor untuk membangun keterlacakan antara kasus penggunaan dengan proses bisnis.<\/p>\n<h2 class=\"h2\">Apa itu BPMN dan BPD?<\/h2>\n<p><a href=\"http:\/\/www.bpmn.org\/\" rel=\"noopener noreferrer\" target=\"_blank\">BPMN<\/a> memberikan analis bisnis serangkaian notasi grafis untuk memodelkan proses bisnis. Awalnya dikembangkan oleh <a href=\"http:\/\/www.bpmi.org\/\" rel=\"noopener noreferrer\" target=\"_blank\">Inisiatif Manajemen Proses Bisnis<\/a> (BPMI) dan sekarang sedang dikelola oleh <a href=\"http:\/\/www.omg.org\/\" rel=\"noopener noreferrer\" target=\"_blank\">Kelompok Manajemen Objek<\/a> (OMG). Salah satu motivasi pengembangan BPMN adalah untuk menyediakan bahasa grafis bersama bagi orang-orang dengan peran berbeda, dari negara berbeda, dan\/atau dengan bahasa lisan yang berbeda untuk memahami proses bisnis yang sama tanpa hambatan.<\/p>\n<p>BPD, singkatan dari <a href=\"https:\/\/www.visual-paradigm.com\/features\/bpmn-diagram-and-tools\/#business-process-diagram\">Diagram Proses Bisnis<\/a>, adalah tempat di mana proses bisnis dimodelkan menggunakan BPMN. Ini adalah diagram serupa alur kerja, yang menggambarkan alur proses, peserta yang terlibat, dan pertukaran pesan antar peserta. Analis bisnis menggambar BPD untuk memodelkan bagaimana peserta yang berbeda bekerja sama untuk mencapai tujuan bisnis. Setelah memvalidasi model bisnis yang telah selesai terhadap pengguna akhir, analis sistem dapat mulai merencanakan sistem.<\/p>\n<p>Berikut ini adalah BPD sederhana dari proses pendaftaran untuk suatu organisasi. Ini mencakup sebagian besar notasi pemodelan umum yang biasa Anda lihat. Mari kita lihat.<\/p>\n<p><img alt=\"BPD sample\" decoding=\"async\" height=\"393px\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/01-bpd-sample.png\" width=\"720px\"\/><\/p>\n<table border=\"1\">\n<tbody>\n<tr>\n<th>Notasi<\/th>\n<th>Deskripsi<\/th>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><img alt=\"BPMN pool\" decoding=\"async\" height=\"81px\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/02-bpmn-pool.png\" width=\"206px\"\/><\/td>\n<td>Pool \u2013 Melambangkan peserta dalam suatu proses. Dalam BPMN, baik pool maupun lane digunakan untuk melambangkan peserta. Lane terdapat di dalam pool untuk memodelkan sub-partisi dari pool induk.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><img alt=\"BPMN start event\" decoding=\"async\" height=\"21px\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/03-bpmn-start-event.png\" width=\"21px\"\/><\/td>\n<td>Peristiwa Mulai \u2013 Awal dari suatu proses. Pemicu dapat didefinisikan untuk memberi tahu pembaca dalam situasi apa proses akan dipicu. Misalnya, ketika email diterima\/ketika hari Senin pagi\/ketika terjadi kesalahan.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><img alt=\"BPMN task\" decoding=\"async\" height=\"41px\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/04-bpmn-task.png\" width=\"101px\"\/><\/td>\n<td>Tugas \u2013 Kegiatan atomik yang mungkin dilakukan oleh peserta yang ditunjuk (dimodelkan oleh pool\/lane). Tugas dan objek alur lainnya dihubungkan bersama untuk membentuk alur kerja bisnis yang lengkap.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><img alt=\"BPMN end event\" decoding=\"async\" height=\"23px\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/05-bpmn-end-event.png\" width=\"23px\"\/><\/td>\n<td>Peristiwa Akhir \u2013 Akhir dari suatu proses. Hasil dapat didefinisikan untuk memberi tahu pembaca apa yang akan terjadi ketika proses berakhir. Misalnya, untuk mengeluarkan sinyal\/menghasilkan kesalahan, dll.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Dalam tutorial ini, kami tidak akan fokus secara berlebihan pada BPD maupun pemodelan proses bisnis. Jika Anda ingin mempelajari lebih lanjut tentang BPMN, BPD, atau pemodelan proses bisnis, silakan baca tutorial Pengantar ke <a href=\"https:\/\/www.visual-paradigm.com\/tutorials\/bpmn1.jsp\">BPMN Bagian I hingga IV<\/a>.<\/p>\n<h2 class=\"h2\">Apa itu Diagram Kasus Penggunaan?<\/h2>\n<p>Pemodelan kasus penggunaan mengacu pada teknik menangkap kebutuhan pengguna tingkat tinggi menggunakan diagram kasus penggunaan UML. Model kasus penggunaan dirancang untuk perancang perangkat lunak atau sistem, bukan untuk orang bisnis.<\/p>\n<p><img alt=\"06-use-case-diagram-sample\" decoding=\"async\" height=\"345px\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/06-use-case-diagram-sample.png\" width=\"592px\"\/>Ada tiga elemen utama dalam diagram kasus penggunaan.<\/p>\n<table border=\"1\">\n<tbody>\n<tr>\n<th>Notasi<\/th>\n<th>Deskripsi<\/th>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><img alt=\"UML use case\" decoding=\"async\" height=\"41px\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/07-uml-use-case.png\" width=\"141px\"\/><\/td>\n<td>Use case \u2013 Setiap use case mewakili tujuan pengguna, yaitu tujuan yang ingin dicapai oleh pengguna sistem. Perhatikan bahwa use case hanya digunakan untuk menunjukkan apa yang ingin dilakukan pengguna, bukan apa yang perlu dikembangkan oleh pengembang, meskipun dalam beberapa kasus keduanya bisa sama. Jika Anda ingin mendokumentasikan atau memodelkan fungsi-fungsi yang terlibat dalam sebuah use case, Anda dapat menggunakan alat alur peristiwa, atau menguraikan use case dengan <a href=\"https:\/\/www.visual-paradigm.com\/features\/uml-and-sysml-tools\/#activity-diagram\">diagram urutan\/diagram aktivitas<\/a>. Hanya perlu diingat bahwa pemodelan use case bertujuan untuk memodelkan apa yang ingin dicapai pengguna.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><img alt=\"UML actor\" decoding=\"async\" height=\"72px\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/08-uml-actor.png\" width=\"48px\"\/><\/td>\n<td>Aktor \u2013 Pengguna sistem. Kata &#8216;pengguna&#8217; di sini tidak terbatas pada manusia. Bisa berupa sistem lain yang berinteraksi dengan sistem kita untuk memenuhi tujuan bisnis tertentu.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><img alt=\"UML communication link\" decoding=\"async\" height=\"72px\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/09-uml-communication-link.png\" width=\"149px\"\/><\/td>\n<td>Tautan komunikasi\/Asosiasi \u2013 Menghubungkan antara aktor dan use case untuk menunjukkan akses sistem oleh aktor. Setiap tautan komunikasi mengimplikasikan urutan transaksi antara aktor dan sistem.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<h2 class=\"h2\">Transisi dari BPD dan Diagram Use Case<\/h2>\n<p>Meskipun BPD dan diagram use case tidak harus saling bergantung, keduanya bisa saling terkait secara saling melengkapi. Biasanya, kita mengembangkan perangkat lunak untuk mengotomatisasi atau mengoptimalkan alur kerja tertentu dari proses bisnis. Dengan BPD, Anda dapat memahami bagaimana para peserta bekerja sama dan siapa yang bertanggung jawab atas apa, sehingga Anda dapat mengidentifikasi fungsi-fungsi yang dibutuhkan sistem untuk mendukung mereka. Fungsi sistem (alur kerja atau proses bisnis) yang diinginkan pengguna dapat dimodelkan menggunakan use case dan selanjutnya dikembangkan oleh tim. Akibatnya, kita dapat mengatakan bahwa BPD membantu Anda mengidentifikasi use case untuk sistem yang sedang dikembangkan.<\/p>\n<p>Visual Paradigm adalah alat pemodelan visual yang mendukung dari melakukan proses bisnis hingga pemodelan use case (dari kebutuhan bisnis ke kebutuhan aplikasi) dengan membangun kaitan pelacakan antara kedua model melalui fitur transisi model. Kita membutuhkan pelacakan karena alasan berikut:<\/p>\n<ul class=\"contentPoint\">\n<li>Kita dapat memastikan sistem dapat sesuai dengan penggunaan dunia nyata dengan mempelajari bagian alur proses yang terlibat dalam sebuah use case.<\/li>\n<li>Untuk menjawab pertanyaan seperti &#8216;Mengapa kita membutuhkan fungsi sistem ini?&#8217; dengan melacak bagian proses dari mana sebuah use case berasal.<\/li>\n<li>Untuk menjawab pertanyaan seperti &#8216;Apakah operasi tertentu sudah diimplementasikan?&#8217; dengan melacak dari BPD ke diagram use case.<\/li>\n<\/ul>\n<h2 class=\"h2\">BPD vs. Diagram Use Case<\/h2>\n<p>Ketika Anda melakukan transisi dari BPD ke diagram use case, Anda dapat menghasilkan aktor dari lane\/pool, dan menghasilkan use case dari tugas\/sub-proses. Tabel berikut menunjukkan karakteristik pool, lane, aktor, tugas, sub-proses, dan use case, dalam hal transisi model.<\/p>\n<table border=\"1\">\n<tbody>\n<tr>\n<th>Dari<\/th>\n<th>Ke<\/th>\n<th>Deskripsi<\/th>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><img alt=\"Pool\" decoding=\"async\" height=\"71px\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/10-pool.png\" width=\"160px\"\/><br \/>\n<img alt=\"Lane\" decoding=\"async\" height=\"72px\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/11-lane.png\" width=\"159px\"\/><\/td>\n<td><img alt=\"14-actor\" decoding=\"async\" height=\"74px\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/14-actor.png\" width=\"34px\"\/><\/td>\n<td>\n<div>Pool\/Lane ke Aktor<\/div>\n<p>Dalam BPD, sebuah pool mewakili peserta proses bisnis sedangkan lane adalah bagian sub dari pool. Siapa pun yang memiliki aktivitas untuk dilakukan, yang relevan dengan proses, dikatakan sebagai peserta. Dalam diagram use case, seorang aktor mewakili pengguna sistem. Perhatikan bahwa setiap orang atau peran yang bukan pengguna sistem tidak boleh dianggap sebagai aktor.<\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><img alt=\"Task\" decoding=\"async\" height=\"43px\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/12-task.png\" width=\"93px\"\/><br \/>\n<img alt=\"Sub-process\" decoding=\"async\" height=\"43px\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/13-sub-process.png\" width=\"104px\"\/><\/td>\n<td><img alt=\"15-use-case\" decoding=\"async\" height=\"43px\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/15-use-case.png\" width=\"83px\"\/><\/td>\n<td>\n<div>Tugas\/Sub-Proses ke Use Case<\/div>\n<p>Dalam BPD, tugas\/sub-proses (aktivitas) mengacu pada tindakan apa pun yang mungkin dilakukan peserta untuk menyelesaikan proses bisnis. Dalam diagram use case, sebuah use case menampilkan tujuan yang ingin dicapai pengguna dengan menggunakan sistem. Perhatikan bahwa suatu aktivitas tidak harus relevan dengan fungsi sistem apa pun, dan satu use case dapat memenuhi beberapa aktivitas.<\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Beberapa orang mungkin berpikir bahwa diagram use case mirip dengan BPD tetapi sangat berbeda dalam notasi dan tujuan. Ingatlah fakta bahwa BPMN dirancang untuk para profesional bisnis, sedangkan diagram use case ditujukan untuk analis sistem atau pengembang sistem. Keduanya memiliki tujuan yang berbeda dan membaca bisnis dari dua sudut pandang yang berbeda. Karena itulah pada bagian sebelumnya saya telah merangkum hubungan antara BPD dan diagram use case dengan mengatakan &#8216;BPD membantu Anda mengidentifikasi use case&#8217;. BPD hanya dapat memberi Anda petunjuk saat mengidentifikasi use case. Tidak ada aturan yang menyatakan bahwa setiap tugas yang ada dalam BPD setara dengan sebuah use case. Namun kita bisa menguraikan proses bisnis dengan use case untuk otomatisasi fitur oleh sistem target.<\/p>\n<p>Dalam studi kasus ini, saya akan memberi Anda beberapa ide tentang apa yang harus Anda perhatikan saat melakukan transisi dari BPD ke diagram use case. Anda kemudian akan memahami betapa berbedanya keduanya.<\/p>\n<h2 class=\"h2\">Studi Kasus: Perusahaan Air Murni True Aqua<\/h2>\n<p>Perusahaan Air Murni True Aqua adalah penyedia air murni muda di kota. Mereka menjual air murni untuk kebutuhan bisnis dan rumah tangga. Berikut ini adalah deskripsi teks mengenai proses pengiriman air mereka.<\/p>\n<table border=\"1\">\n<tbody>\n<tr>\n<td>Untuk memesan air murni, pelanggan dapat menghubungi nomor hotline pemesanan atau mengirim email kepada kami. Saat ini, 90% pesanan berasal dari panggilan telepon, sedangkan 10% ditempatkan melalui email. Asisten layanan pelanggan yang menerima pesanan akan memeriksa apakah pelanggan merupakan pelanggan lama atau baru. Jika pelanggan belum pernah memesan sebelumnya, asisten layanan pelanggan akan membuat akun pelanggan untuknya sebelum melanjutkan ke pengiriman air.<\/p>\n<p>Pengiriman air murni dilakukan seminggu sekali setiap hari Rabu. Jadi setiap pagi hari Rabu, asisten layanan pelanggan akan meneruskan pesanan ke Departemen Logistik untuk pengiriman. Setelah manajer di Departemen Logistik menerima pesanan, ia akan mengatur pengiriman dengan menugaskan pekerja untuk pesanan yang berbeda, mencetak dan memposting jadwal. Para pekerja menerima panggilan dan mengirimkan air ke pelanggan sesuai kebutuhan.<\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Model proses bisnis telah dibuat berdasarkan deskripsi tersebut. Sekarang, Anda diminta untuk mengembangkan sistem komputer untuk mengoptimalkan seluruh proses. Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah mengembangkan model use case. Dengan bantuan BPD, coba kembangkan diagram use case.<\/p>\n<ol class=\"contentList\">\n<li>Unduh <a href=\"https:\/\/d1dlalugb0z2hd.cloudfront.net\/tutorials\/frombptouc_screenshots\/resources\/Distilled%20Water%20Delivery.vpp\">Distilled Water Delivery.vpp<\/a>. Anda juga dapat menemukan file ini di bagian bawah tutorial ini.<\/li>\n<li>Buka file .vpp yang diunduh di Visual Paradigm. Untuk membuka proyek, pilih <b>Proyek &gt; Buka<\/b> dari bilah alat aplikasi.<\/li>\n<li>Buka BPD <i>Proses Pemesanan Air Murni<\/i>. Pelajari alur proses dengan cermat.<br \/>\n<img alt=\"BPD sample\" decoding=\"async\" height=\"393px\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/16-bpd-sample.png\" width=\"720px\"\/><\/li>\n<li>Proses dimulai ketika pelanggan melakukan pemesanan. Di sini kita dapat mempertimbangkan sebuah use case \u2013 Tempatkan Pesanan. Use case ini akan membantu mengotomatisasi proses dengan menyediakan antarmuka bagi pelanggan untuk melakukan pemesanan tanpa bantuan asisten layanan pelanggan, membantu memverifikasi identitas pelanggan dan membuat akun jika pelanggan belum ada. Klik kanan pada Tempatkan Pesanan dan pilih <b>Elemen Terkait &gt; Transit ke Use Case Baru\u2026<\/b> dari menu pop-up.<br \/>\n<img alt=\"Create use case from task\" decoding=\"async\" height=\"312\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/17-create-use-case-from-task.png\" width=\"771\"\/><\/li>\n<li>Ini memicu jendela <b>Transit Elemen Model<\/b>jendela, di mana Anda dapat memilih model untuk menempatkan use case dan aktor, serta mengganti namanya. Dalam kasus ini kami puas dengan nama use case dan aktor. Mari kita pertahankan nama-nama tersebut tanpa perubahan. Klik <b>OK<\/b>.<br \/>\n<img alt=\"Transit model element\" decoding=\"async\" height=\"258\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/18-transit-model-element.png\" width=\"736\"\/><br \/>\nIni membentuk diagram use case baru di UeXceler.<br \/>\n<img alt=\"Use case diagram formed\" decoding=\"async\" height=\"194\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/20-use-case-diagram-formed.png\" width=\"673\"\/><\/li>\n<li>Kembali ke BPD.<\/li>\n<li>Mari kita pertimbangkan tugas <i>Buat Akun Pelanggan<\/i>. Dalam proses bisnis, asisten layanan pelanggan perlu membuat akun untuk setiap pelanggan baru. Dalam sistem baru, ini bisa menjadi bagian dari use case <i>Tempatkan Pesanan<\/i>use case, atau menjadi use case terpisah yang dipicu secara manual oleh asisten layanan pelanggan. Dalam situasi dunia nyata, Anda sebaiknya mengklarifikasi keraguan semacam ini dengan pemangku kepentingan karena model use case yang salah akan mengarah pada pengembangan fungsi yang tidak sesuai dengan harapan pengguna. Dalam contoh ini, mari kita asumsikan bahwa pengguna ingin tugas <i>Buat Akun Pelanggan<\/i>dilakukan oleh asisten layanan pelanggan. Mari kita buat use case dari tugas ini. Klik kanan pada <i>Buat Akun Pelanggan<\/i> dan pilih <b>Elemen Terkait &gt; Transit ke Use Case Baru\u2026<\/b> dari menu pop-up.<br \/>\n<img alt=\"Create use case from task\" decoding=\"async\" height=\"320\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/21-create-use-case-from-task.png\" width=\"713\"\/><\/li>\n<li>Sekali lagi, kami puas dengan nama use case dan aktor. Pertahankan semua hal di jendela <b>Transit Elemen Model<\/b>tidak berubah. Klik <b>OK<\/b>. Diagram use case diperbarui dengan use case dan aktor baru. Mari kita lihat.<br \/>\n<img alt=\"New use cases created\" decoding=\"async\" height=\"173\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/23-new-use-cases-created.png\" width=\"371\"\/><\/li>\n<li>Kembali ke BPD. Mari kita lanjutkan ke sub-proses<i>Atur Pengiriman<\/i>. Manajer Departemen Logistik dapat menggunakan sistem untuk melakukan penjadwalan dan memberi tahu pekerja untuk mengirim air. Oleh karena itu, ini juga merupakan use case sistem. Klik kanan pada sub-proses<i>Atur Pengiriman<\/i> dan pilih <b>Elemen Terkait &gt; Transit ke Use Case Baru\u2026<\/b> dari menu pop-up.<\/li>\n<li>Periksa aktor Manajer di <b>Jendela Elemen Model Transit<\/b> jendela. Jika kita pertahankan nama aktor sebagai<i>Manajer<\/i>, ini ambigu dalam model use case karena mungkin ada banyak departemen dengan banyak manajer yang berbeda di perusahaan. Oleh karena itu, ubah nama aktor menjadi<i>Manajer Departemen Logistik<\/i>.<br \/>\n<img alt=\"24-rename-actor\" decoding=\"async\" height=\"258\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/24-rename-actor.png\" width=\"736\"\/><\/li>\n<li>Klik<b>OK<\/b>. Diagram use case diperbarui.<br \/>\n<img alt=\"Use case diagram updated\" decoding=\"async\" height=\"275\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/25-use-case-diagram-updated.png\" width=\"375\"\/><\/li>\n<li>Kembali ke BPD. Tugas akhir<i>Kirim Air<\/i>adalah pekerjaan yang hanya bisa dilakukan manusia dan tidak ada kaitannya dengan interaksi sistem. Oleh karena itu, kita tidak perlu membuat use case untuk pekerjaan ini.<\/li>\n<li>Misalkan manajer regional ingin sistem mendukung fungsi baru yang dapat menghasilkan laporan untuk menampilkan statistik pesanan. Fungsi ini dapat membantunya meninjau dan menyempurnakan strategi pemasaran. Meskipun fungsi ini belum dimodelkan dalam model proses bisnis, kita dapat menggambarnya langsung di diagram use case. Buka diagram use case. Gambar aktor<i>Manajer Regional<\/i>. Buat use case<i>Hasilkan Laporan Statistik<\/i>dari sana dengan asosiasi di antaranya.<br \/>\n<img alt=\"Use case diagram updated\" decoding=\"async\" height=\"375\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/26-use-case-diagram-updated.png\" width=\"375\"\/><\/li>\n<li>Misalkan klien ingin mengizinkan pelanggan untuk melihat pernyataan tagihan dan membatalkan pesanan. Selain itu, klien ingin mengizinkan manajer departemen logistik untuk mencetak laporan logistik. Gambarkan use case masing-masing.<br \/>\n<img alt=\"Use case diagram updated\" decoding=\"async\" height=\"435\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/27-use-case-diagram-updated.png\" width=\"463\"\/><\/li>\n<li>Rapikan diagram.<br \/>\n<img alt=\"Complete use case diagram\" decoding=\"async\" height=\"305\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/28-complete-use-case-diagram.png\" width=\"618\"\/><\/li>\n<li>Hubungan transisi memungkinkan Anda melacak model proses bisnis dari model use case (dan sebaliknya). Mari kita coba. Letakkan pointer mouse di atas<i>Tempatkan Pesanan<\/i> kasus penggunaan.<br \/>\n<img alt=\"Mouse over use case\" decoding=\"async\" height=\"57\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/29-mouse-over-use-case.png\" width=\"176\"\/><\/li>\n<li>Klik pada <b>Model Transitor<\/b> sumber daya di sudut kanan bawah bentuk. Pilih <b>Transit Dari &gt; Proses Pemesanan Air Murni&lt;.Tempatkan Pesanan<\/b> dari menu pop-up.<br \/>\n<img alt=\"Open task from use case\" decoding=\"async\" height=\"158\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/30-open-task-from-use-case.png\" width=\"714\"\/><br \/>\nIni membuka BPD dengan tugas <i>Tempatkan Pesanan<\/i> dipilih.<br \/>\n<img alt=\"Task selected\" decoding=\"async\" height=\"256px\" src=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/31-task-selected.png\" width=\"480px\"\/><\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<hr\/>\n<div class=\"row resource-links\">\n<div class=\"large-12 columns\">\n<div class=\"panel\">\n<h5>Sumber Daya<\/h5>\n<ol>\n<li><a href=\"https:\/\/d1dlalugb0z2hd.cloudfront.net\/tutorials\/frombptouc_screenshots\/resources\/Distilled%20Water%20Delivery.vpp\">Pengiriman Air Murni.vpp<\/a><\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/article>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Identifikasi Kasus Penggunaan dari Proses Bisnis Edisi Visual Paradigm yang Kompatibel: Enterprise, Profesional, Standar BPMN semakin sering digunakan untuk mengidentifikasi<\/p>\n","protected":false},"author":3479,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_yoast_wpseo_title":"","_yoast_wpseo_metadesc":"","fifu_image_url":"","fifu_image_alt":"","footnotes":""},"categories":[123],"tags":[],"class_list":["post-10993","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-software-engineering"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.0 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Identifikasi Kasus Penggunaan dari Proses Bisnis - ArchiMetric Indonesian<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Identifikasi Kasus Penggunaan dari Proses Bisnis - ArchiMetric Indonesian\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Identifikasi Kasus Penggunaan dari Proses Bisnis Edisi Visual Paradigm yang Kompatibel: Enterprise, Profesional, Standar BPMN semakin sering digunakan untuk mengidentifikasi\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"ArchiMetric Indonesian\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-03-05T22:45:33+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/01-bpd-sample.png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"archimetric@visual-paradigm.com\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"archimetric@visual-paradigm.com\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"16 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/\"},\"author\":{\"name\":\"archimetric@visual-paradigm.com\",\"@id\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/#\/schema\/person\/e4027c9f5b602fc705716009e5671d28\"},\"headline\":\"Identifikasi Kasus Penggunaan dari Proses Bisnis\",\"datePublished\":\"2026-03-05T22:45:33+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/\"},\"wordCount\":1925,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/01-bpd-sample.png\",\"articleSection\":[\"Software Engineering\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/\",\"url\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/\",\"name\":\"Identifikasi Kasus Penggunaan dari Proses Bisnis - ArchiMetric Indonesian\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/01-bpd-sample.png\",\"datePublished\":\"2026-03-05T22:45:33+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/#\/schema\/person\/e4027c9f5b602fc705716009e5671d28\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/01-bpd-sample.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/01-bpd-sample.png\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Identifikasi Kasus Penggunaan dari Proses Bisnis\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/\",\"name\":\"ArchiMetric Indonesian\",\"description\":\"EA, Dev Ops, Scrum, Agile and More\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/#\/schema\/person\/e4027c9f5b602fc705716009e5671d28\",\"name\":\"archimetric@visual-paradigm.com\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/de58c1924d83d002dbce0b79f74ba4b70e2f85238332df6cabc0227effdf470d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/de58c1924d83d002dbce0b79f74ba4b70e2f85238332df6cabc0227effdf470d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"archimetric@visual-paradigm.com\"},\"url\":\"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/author\/archimetricvisual-paradigm-com\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Identifikasi Kasus Penggunaan dari Proses Bisnis - ArchiMetric Indonesian","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Identifikasi Kasus Penggunaan dari Proses Bisnis - ArchiMetric Indonesian","og_description":"Identifikasi Kasus Penggunaan dari Proses Bisnis Edisi Visual Paradigm yang Kompatibel: Enterprise, Profesional, Standar BPMN semakin sering digunakan untuk mengidentifikasi","og_url":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/","og_site_name":"ArchiMetric Indonesian","article_published_time":"2026-03-05T22:45:33+00:00","og_image":[{"url":"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/01-bpd-sample.png","type":"","width":"","height":""}],"author":"archimetric@visual-paradigm.com","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"archimetric@visual-paradigm.com","Estimasi waktu membaca":"16 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/"},"author":{"name":"archimetric@visual-paradigm.com","@id":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/#\/schema\/person\/e4027c9f5b602fc705716009e5671d28"},"headline":"Identifikasi Kasus Penggunaan dari Proses Bisnis","datePublished":"2026-03-05T22:45:33+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/"},"wordCount":1925,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/01-bpd-sample.png","articleSection":["Software Engineering"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/","url":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/","name":"Identifikasi Kasus Penggunaan dari Proses Bisnis - ArchiMetric Indonesian","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/01-bpd-sample.png","datePublished":"2026-03-05T22:45:33+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/#\/schema\/person\/e4027c9f5b602fc705716009e5671d28"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/01-bpd-sample.png","contentUrl":"https:\/\/www.archimetric.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/01-bpd-sample.png"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/identify-use-cases-business-process\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Identifikasi Kasus Penggunaan dari Proses Bisnis"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/#website","url":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/","name":"ArchiMetric Indonesian","description":"EA, Dev Ops, Scrum, Agile and More","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/#\/schema\/person\/e4027c9f5b602fc705716009e5671d28","name":"archimetric@visual-paradigm.com","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/de58c1924d83d002dbce0b79f74ba4b70e2f85238332df6cabc0227effdf470d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/de58c1924d83d002dbce0b79f74ba4b70e2f85238332df6cabc0227effdf470d?s=96&d=mm&r=g","caption":"archimetric@visual-paradigm.com"},"url":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/author\/archimetricvisual-paradigm-com\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10993","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3479"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10993"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10993\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10993"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10993"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.archimetric.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10993"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}