Scrum (yang berasal dari “scrummage”) adalah metode untuk memulai kembali pertandingan dalam rugby, di mana pemain saling berpegangan erat, kepala menunduk, dalam upaya mendapatkan bola. Scrums digunakan setelah pelanggaran ringan atau kehilangan bola, tergantung pada apakah itu rugby union atau rugby league. Scrums terjadi lebih sering dan kini lebih penting dalam rugby league dibandingkan rugby union. Praktik memulai pertandingan dari scrum dalam rugby berkembang dari kekacauan permainan.

Scrummage dalam Rugby
Membangun pada konsep scrum rugby, Agile metodologi pengembangan perangkat lunak menggunakan kerangka kerja Scrum untuk mengelola pengembangan produk secara efektif, dengan tim pengembangan produk berfungsi sebagai satu kesatuan yang utuh untuk mencapai tujuan bersama. Untuk mencapai kesuksesan, tim Scrum yang mandiri bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama—sama seperti tim rugby.tim Scrum dengan peran yang ditentukan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama—sama seperti tim rugby.
Sama seperti scrum rugby, Scrum Agile sangat bergantung pada komunikasi yang kuat di antara anggota tim, dengan setiap pemain melakukan bagian mereka untuk memenuhi peran khususnya. Jika salah satu pemain gagal melakukan tugasnya karena alasan apa pun, rekan tim harus mengisi celah tersebut. Demikian pula, anggota tim Scrum dalam Agile harus saling mendukung dan memperkuat satu sama lain. Ini melibatkan komunikasi yang sering, penentuan tujuan yang realistis, dan komitmen penuh terhadap tim.
Asal Usul Kerangka Kerja Scrum dalam Pengembangan Perangkat Lunak
Pemikiran Agile sangat dipengaruhi oleh praktik terbaik industri Jepang—khususnya prinsip-prinsip Lean yang diperkenalkan oleh Toyota dan Honda—dan strategi manajemen pengetahuan yang dikembangkan oleh Hirotaka Takeuchi dan Nonaka. Dipengaruhi oleh gagasan-gagasan ini dan penelitian global tentang proyek perangkat lunak, Jeff Sutherland pertama kali mendefinisikan dan menerapkan proses Scrum untuk pengembangan perangkat lunak di Easel pada tahun 1993.
- 1986 – Takeuchi & Nonaka memperkenalkan “Permainan Pengembangan Produk Baru” di Harvard Business Review, menciptakan istilah “Scrum” untuk pengembangan produk.
- 1993 – Jeff Sutherland pertama kali menerapkan Scrum dalam pengembangan perangkat lunak.
- 1995 – Jeff Sutherland dan Ken Schwaber memformalkan kerangka kerja Scrum dan mempresentasikannya di OOPSLA ’95.
- 2001 – Manifesto Agile dan prinsip-prinsipnya diterbitkan, membentuk Agile Alliance. Scrum menjadi diakui sebagai metodologi Agile.
- 2001 – Ken Schwaber dan Mike Beedle menerbitkan buku pertama tentang Scrum, Pengembangan Perangkat Lunak Agile.
- 2002 – Ken Schwaber dan Mike Cohn mendirikan Scrum.org, kemudian dikenal sebagai Scrum Alliance.

Sejarah Scrum
Payung Metodologi Agile
Sejak kelahiran Manifesto Agile pada tahun 2001, Agile telah menciptakan perhatian yang besar. Pada kenyataannya, Agile bukanlah proses yang kaku tetapi sebuah pola pikir yang memungkinkan tim dan organisasi untuk berinovasi, merespons dengan cepat terhadap perubahan kebutuhan, serta mengurangi risiko. Organisasi dapat secara fleksibel mengadopsi berbagai kerangka kerja yang tersedia—seperti Scrum, Kanban, Lean, XP, dan lainnya—tergantung pada kebutuhan mereka.

Payung Agile
Agile vs. Scrum
Agile tidak mengatur serangkaian langkah tetap. Scrum menyediakan cara terstruktur untuk menerapkan Agile pada proyek. Bayangkan Scrum sebagai kerangka kerja yang memungkinkan pengembangan Agile. Anda dapat mengadopsi kerangka kerja Agile lainnya—seperti Kanban, Pemrograman Ekstrem (XP), atau Pengembangan Berbasis Fitur (FDD)—tetapi kesederhanaan Scrum menjadikannya pilihan paling populer di antara metodologi Agile. Scrum juga dapat berfungsi sebagai pintu masuk ke praktik Agile lainnya. Selain itu, Scrum tidak terbatas pada pengembangan perangkat lunak—dapat memberikan manfaat bagi banyak proyek non-IT juga.